Charles Haddon Spurgeon dari
London, mungkin adalah pengkhotbah terbesar abad ke-19, mungkin akan tetap
tinggal dalam kegelapan dan keputusasaan jika ia tidak terjebak badai salju
dalam perjalanan ke gereja. Ia tidak bisa lagi berjalan lebih jauh menuju
gerejanya. Lalu ia berpaling ke halaman sempit kapel Metodis. Hanya ada 15
orang dalam kapel itu. Oleh karena cuaca buruk, pendeta pun tidak bisa hadir
disana. Seorang awam yang rendah hati, yang tidak berpendidikan, mulai
berkhotbah.
Sebagai ayat inti khotbahnya ia
menggunakan Yesaya 45:22: “Berpalinglah kepada-Ku dan biarkanlah dirimu
diselamatkan, hai ujung-ujung bumi.” Walaupun
ia tidak mengucapkan semua kata-kata itu dengan benar, ia berbicara dengan
penuh keyakinan. Ia membuka pembicaraannya dengan mengatakan, “
Sahabat-sahabatku yang kekasih, ini adalah ayat yang paling sederhana. Ayat ini
mengatakan, “Berpalinglah”. Berpaling tidak menimbulkan rasa sakit. Tidak perlu
mengangkat kaki atau jari, hanya ‘Berpaling.’ Orang tidak perlu pergi ke
perguruan tinggi untuk mempelajari bagaimana berpaling. Mungkin anda adalah
seorang yang paling bodoh, namun anda masih bisa’berpaling’. Seseorang tidak
perlu berumur seribu tahun supaya tahu’berpaling’. Setiap orang bisa berpaling;
anak-anakpun tahu berpaling”.
Lalu orang itu melanjutkan
ayatnya dengan mengatakan, “Yesus berkata, berpalinglah kepada-Ku dan lihatlah;
Aku berkeringat darah. Berpalinglah kepada-Ku dan lihatlah, aku tergantung di
kayu salib. Berpalinglah kepada-Ku dan lihatlah, aku mati dan dikuburkan; Aku bangkit kembali. Berpalinglah kepada-Ku dan lihatlah, Aku naik
ke Surga. Berpalinglah kepada-Ku dan lihatlah, Aku duduk di sebelah kanan Bapa.
Hai orang berdosa yang malang, berpalinglah dan lihatlah kepada-Ku! Berpalinglah
dan lihatlah kepada-Ku!
Sesudah 10 menit tidak ada lagi
yang akan dikatakannya. Tetapi ia
melihat Spurgeon duduk di sebelah belakang, dan sementara memandang
kepadanya, ia berteriak dengan pola Metodis yang primitive, “Orang muda, engkau
kelihatan sedih….. Berpalinglah dan pandanglah Yesus Kristus! Pandanglah!
Pandanglah!
Beberapa lama kemudian Spurgeon
berkata: “Oh saya berpaling dan memandang! Awan lenyap bilamana saya berpaling
dari diriku kepada Juruselamatku. Ada kehidupan dalam memandang pada Dia yang
disalibkan. Lalu berpalinglah, pandanglah, hai orang berdosa, berpalinglah
kepada-Nya dan diselamatkan. Kepada Dia yang dipakukan ke kayu salib.”-DRG
Yesaya 45: 22
Berpalinglah kepada-Ku dan biarkanlah dirimu diselamatkan, hai ujung-ujung bumi! Sebab Akulah Allah dan tidak ada yang lain.
Sumber: Buku Kabar Baik Yang
Abadi (HMS Richard Jr & Daniel R Guild)
No comments:
Post a Comment