Monday, February 16, 2015

Skip the weary day, come and visit Bali!



“Bali so rocks! I love beach and I hate Jungle!”  My friends yell when we were flying over the beaches.  Begitulah, suara hati orang-orang yang mendem di hutan dan baru ketemu pantai.  Haha. Anw. Kali ini saya mau berbagi cerita sedikit mengenai kunjungan saya ke Bali beberapa waktu lalu. Dibukanya direct flight kota minyak ke Denpasar, membawa saya dan teman-teman keluar hutan menuju pantai. Well, rasanya memang menyegarkan, dari pemandangan serba pohon dan beruk beralih ke pantai, bikini, sunglasses and people! 

Kunjungan yang singkat disana, membuat saya menyusun jadwal yang padat. Rute yang kami buat juga tak jauh-jauh dari rute wisata bali pada umumnya. Yang menarik buat saya adalah permainan watersport, saya mencoba flying fish di Tanjung Benoa dan rasanya berdiri di atas air itu.. ga serem tapi feel free. Namun, sebelum mencoba permainan ini, kita wajib buat tawar-menawar karena harga yang ada di list merupakan harga turis luar yang kurang pantas buat  turis dalam negeri. Selain itu, kita juga bisa baku-atur dengan instrukturnya di tengah laut kalau mau tambah porsi putaran dengan biaya kurang dari setengah harga di darat. Tapi diam-diam ya 


(Flying Fish @ Tanjung Benoa)


 (it's a very Dreamland beach)
(waiting sunset @ Uluwatu)

Selama di bali, ada satu tempat makan yang saya suka, walau tempat ini rasanya bukan hanya ada di Bali. Makanannya enak (bukan hanya vetsin belaka seperti yang lainnya :( ) dan tempatnya cantik! Bisa dibilang temanya “resto bernuansa alam”. Disana, kita bisa memilih makan duduk di kursi atau lesehan di pendopo. Pendoponya sendiri  berada di atas kolam yang penuh ikan. So, kalau kita menjulurkan kaki ke bawah meja, dapat extra kecup dari bibir ikan >.<

(Santap siang @ Mang Engking Denpasar) 
*hanya akting belaka



                            

Selain berwisata pantai dan menyicipi kuliner, kegiatan yang tidak boleh terlupakan dalam perjalanan ini (atau apapun) adalah berfoto-ria. Dari semua spot pantai di Bali, ada satu tempat yang tidak boleh ketinggalan untuk dijajakin buat berfoto-ria. Bukan dreamland, bukan padang-padang, bukan juga kuta. Terus? Pantai yang berada tepat di belakang discovery mall. Buat saya sih, batu-batu besar yang ada disana sangat bagus buat berfoto, beda dengan yang lain. Meskipun pada awalnya, ketika melihat dari dalam mall yang adem, panas di luar bikin gentar untuk melangkah. Tetapi, sesampainya disana obsesi foto model pun memuncak! *tutupmuka*

Akhirnya, tiba di hari yang tidak di tunggu-tunggu, waktunya pulang! Well, kami pun meluncur ke airport Ngurah Rai bersama bli wayan suartika. Setelah ber “suksema ria” atas service nya selama kami disana, kami pun masuk ke bandara. Sesampainya didalam, saya agak surprise dengan suhu udara. Ternyata, panas bukan hanya milik pantai tetapi milik semua! Surprise berlanjut di ruang tunggu yang sesak dan extra panas. In there, we met with some cute UK guy! Dan itu menjadi sentuhan akhir yang indah dalam perjalanan ini :)

Tuesday, January 27, 2015

Perpanjang SIM di Mobil SIM Keliling


MANDEK. Bingung mau buat apa kalau jaringan internet itu mati seharian. Kantor di hutan. Mau kabur ke mall.. emm mallnya tidak ada. Baca Tempo? sudah 2 jam saya berkutat dengan majalah itu, mulai dari surat pembaca, kasus BG, sampai iklannya saya tuntaskan. Daripada otak berasa melamban karena tidak ada aktivitas lebih baik saya menulis. :)

Saya teringat beberapa waktu lalu saya sempat memperpanjang SIM. Saya memperpanjang di mobil SIM keliling, yang katanya lebih praktis ketimbang di Polres. 
Sebelum saya pergi, saya menelpon layanan Polres Balikpapan, disebutkan untuk membawa fotokopi KTP (2 lbr), fotokopi SIM (2 lbr), Foto 3 x 4, SIM, dan Surat keterangan sehat dokter. Tiba di TKP, petugas hanya meminta SIM lama & fotokopi KTP (1 lbr). Mobil SIM keliling buka jam 09.00 pagi. Saya tiba jam 09.30, yang mengantri sudah banyak sekali. Petugasnya bilang, nanti kembali saja jam 11.30 atau tunggu disini. Saya pun menunggu, berharap bisa dapat giliran lebih awal dari jam yang disebutkan. Ternyata oh ternyata prediksi si bapak petugas ciamik, saya dapat giliran sekitar jam 11.45. 

Setelah mendapat giliran masuk dalam bus, di foto, mukanya sudah lusuh -.- dan cap jari + tanda tangan. Saya di minta mengisi form perpanjang SIM dan menunggu sekitar 15 menit untuk mencetak kartu SIM yang baru. Setelah nama saya di panggil lagi lewat pengeras suara, saya menghampiri mobil, membayar Rp. 130.000 dan mendapat SIM baru :D

Overall, waktu yang dihabiskan untuk memperpanjang SIM sekitar 2 jam 40 menit. Saya tidak tahu pasti, itu cepat atau lambat. Tapi saya rasa sih, lebih cepat kalau dibandingkan dengan mengurus langsung di Kantor Polres, karena  mobil SIM keliling hanya melayani perpanjangan SIM & STNK, tidak untuk membuat baru. Selain itu, dilihat dari jumlah masyarakat yang mengantri pun memang sangat banyak, selama mengantri 2 jam-an, paling tidak ada 50 antrian didepan saya (saya hanya lambat 30 menit dari jam buka). Mungkin jika antrian sedikit, akan jauh lebih cepat.

Sehingga saran saya, alangkah tepatnya kalau datang jam 08.55 dan langsung menaruh SIM & fotokopi KTP kepada petugas saat awal buka. Dan sebaiknya, tidak datang di jam 11.00, karena apabila antriannya banyak pasti kalimat ini yang akan disampaikan “besok pagi saja jam 09.00 Pak/Bu, ini antriannya masih panjang”. Daripada bolak-balik, lebih baik mempersiapkan waktu yang tepat lebih dahulu. ;)

Untuk mengetahui jadwal operasional mobil SIM keliling area Balikpapan, bisa di lihat di:

1.       Koran Kaltim Post halaman Balikpapan
2.       Telp layanan Polres Balikpapan 0542-5604000 / 110
4.       tweettunnel.com/POLRES_BPPN 
       
       PROSEDUR PERPANJANGAN SIM DI MOBIL SIM KELILING


Tuesday, January 20, 2015

Manusia-Manusia Super

Ada dua profil yang saya ambil dari media internet. Dua sosok yang sangat menggugah perasaan saya. Dua orang dari dua latar belakang yang sangat berbeda, yang satu bercukupan, yang lainnya berkekurangan. Tetapi mereka memiliki satu persamaan. 
Hati yang indah

BAI FANG LI STORY

Namanya BAI FANG LI, orang miskin yang pekerjaannya adalah tukang becak. Seluruh hidupnya dihabiskan di atas sadel becaknya, mengayuh dan mengayuh untuk memberi jasanya kepada orang yang naik becaknya. Mengantarkan kemana saja pelanggannya menginginkannya, dengan imbalan uang sekedarnya.Tubuhnya tidaklah perkasa. Perawakannya malah tergolong kecil untuk ukuran becaknya atau orang-orang yang menggunakan jasanya. Tetapi semangatnya luar biasa untuk bekerja. Mulai jam enam pagi setelah melakukan rutinitasnya untuk bersekutu dengan Tuhan. Bai Fang Li melalang di jalanan, di atas becaknya untuk mengantar para pelanggannya. Dan ia akan mengakhiri kerja kerasnya setelah jam delapan malam.

Para pelanggannya sangat menyukai Bai Fang Li, karena ia pribadi yang ramah dan senyum tak pernah lekang dari wajahnya. Dan ia tak pernah mematok berapa orang harus membayar jasanya. Namun karena kebaikan hatinya itu, banyak orang yang menggunakan jasanya membayar lebih. Mungkin karena tidak tega, melihat bagaimana tubuh yang kecil malah tergolong ringkih itu dengan nafas yang ngos-ngosan (apalagi kalau jalanan mulai menanjak) dan keringat bercucuran berusaha mengayuh becak tuanya.

Bai Fang Li tinggal disebuah gubuk reot yang nyaris sudah mau rubuh, di daerah yang tergolong kumuh, bersama dengan banyak tukang becak, para penjual asongan dan pemulung lainnya. Gubuk itupun bukan miliknya, karena ia menyewanya secara harian. Perlengkapan di gubuk itu sangat sederhana. Hanya ada sebuah tikar tua yang telah robek-robek dipojok-pojoknya, tempat dimana ia biasa merebahkan tubuh penatnya setelah sepanjang hari mengayuh becak.

Gubuk itu hanya merupakan satu ruang kecil dimana Bai Fang Li biasa merebahkan tubuhnya beristirahat, di ruang itu juga ia menerima tamu yang butuh bantuannya, di ruang itu juga ada sebuah kotak dari kardus yang berisi beberapa baju tua miliknya dan sebuah selimut tipis tua yang telah bertambal-tambal. Ada sebuah piring seng comel yang mungkin diambilnya dari tempat sampah dimana biasa ia makan, ada sebuah tempat minum dari kaleng. Di pojok ruangan tergantung sebuah lampu templok minyak tanah, lampu yang biasa dinyalakan untuk menerangi kegelapan di gubuk tua itu bila malam telah menjelang.

Bai Fang Li tinggal sendirian di gubuknya. Dan orang hanya tahu bahwa ia seorang pendatang. Tak ada yang tahu apakah ia mempunyai sanak saudara sedarah. Tapi nampaknya ia tak pernah merasa sendirian, banyak orang yang suka padanya, karena sifatnya yang murah hati dan suka menolong. Tangannya sangat ringan menolong orang yang membutuhkan bantuannya, dan itu dilakukannya dengan sukacita tanpa mengharapkan pujian atau balasan.

Dari penghasilan yang diperolehnya selama seharian mengayuh becaknya, sebenarnya ia mampu untuk mendapatkan makanan dan minuman yang layak untuk dirinya dan membeli pakaian yang cukup bagus untuk menggantikan baju tuanya yang hanya sepasang dan sepatu bututnya yang sudah tak layak dipakai karena telah robek. Namun dia tidak melakukannya, karena semua uang hasil penghasilannya disumbangkannya kepada sebuah Yayasan sederhana yang biasa mengurusi dan menyantuni sekitar 300 anak-anak yatim piatu miskin di Tianjin. Yayasan yang juga mendidik anak-anak yatim piatu melalui sekolah yang ada.

Hatinya sangat tersentuh ketika suatu ketika ia baru beristirahat setelah mengantar seorang pelanggannya. Ia menyaksikan seorang anak lelaki kurus berusia sekitar 6 tahun yang yang tengah menawarkan jasa untuk mengangkat barang seorang ibu yang baru berbelanja. Tubuh kecil itu nampak sempoyongan mengendong beban berat di pundaknya, namun terus dengan semangat melakukan tugasnya. Dan dengan kegembiraan yang sangat jelas terpancar di mukanya, ia menyambut upah beberapa uang recehan yang diberikan oleh ibu itu, dan dengan wajah menengadah ke langit bocah itu berguman, mungkin ia mengucapkan syukur pada Tuhan untuk rezeki yang diperolehnya hari itu.

Beberapa kali ia perhatikan anak lelaki kecil itu menolong ibu-ibu yang berbelanja, dan menerima upah uang recehan. Kemudian ia lihat anak itu beranjak ke tempat sampah, mengais-ngais sampah, dan waktu menemukan sepotong roti kecil yang kotor, ia bersihkan kotoran itu, dan memasukkan roti itu ke mulutnya, menikmatinya dengan nikmat seolah itu makanan dari surga.

Hati Bai Fang Li tercekat melihat itu, ia hampiri anak lelaki itu, dan berbagi makanannya dengan anak lelaki itu. Ia heran, mengapa anak itu tak membeli makanan untuk dirinya, padahal uang yang diperolehnya cukup banyak, dan tak akan habis bila hanya untuk sekedar membeli makanan sederhana.
“Uang yang saya dapat untuk makan adik-adik saya….,” jawab anak itu.
“Orang tuamu dimana…?” tanya Bai Fang Li.
“Saya tidak tahu…., ayah ibu saya pemulung…. Tapi sejak sebulan lalu setelah mereka pergi memulung, mereka tidak pernah pulang lagi. Saya harus bekerja untuk mencari makan untuk saya dan dua adik saya yang masih kecil…,” sahut anak itu.

Bai Fang Li minta anak itu mengantarnya melihat ke dua adik anak lelaki bernama Wang Ming itu. Hati Bai Fang Li semakin merintih melihat kedua adik Wang Fing, dua anak perempuan kurus berumur 5 tahun dan 4 tahun. Kedua anak perempuan itu nampak menyedihkan sekali, kurus, kotor dengan pakaian yang compang camping.

Bai Fang Li tidak menyalahkan kalau tetangga ketiga anak itu tidak terlalu perduli dengan situasi dan keadaan ketiga anak kecil yang tidak berdaya itu, karena memang mereka juga terbelit dalam kemiskinan yang sangat parah, jangankan untuk mengurus orang lain, mengurus diri mereka sendiri dan keluarga mereka saja mereka kesulitan.

Bai Fang Li kemudian membawa ke tiga anak itu ke Yayasan yang biasa menampung anak yatim piatu miskin di Tianjin. Pada pengurus yayasan itu Bai Fang Li mengatakan bahwa ia setiap hari akan mengantarkan semua penghasilannya untuk membantu anak-anak miskin itu agar mereka mendapatkan makanan dan minuman yang layak dan mendapatkan perawatan dan pendidikan yang layak.

Sejak saat itulah Bai Fang Li menghabiskan waktunya dengan mengayuh becaknya mulai jam 6 pagi sampai jam 8 malam dengan penuh semangat untuk mendapatkan uang. Dan seluruh uang penghasilannya setelah dipotong sewa gubuknya dan membeli dua potong kue kismis untuk makan siangnya dan sepotong kecil daging dan sebutir telur untuk makan malamnya, seluruhnya ia sumbangkan ke Yayasan yatim piatu itu. Untuk sahabat-sahabat kecilnya yang kekurangan.

Ia merasa sangat bahagia sekali melakukan semua itu, ditengah kesederhanaan dan keterbatasan dirinya. Merupakan kemewahan luar biasa bila ia beruntung mendapatkan pakaian rombeng yang masih cukup layak untuk dikenakan di tempat pembuangan sampah. Hanya perlu menjahit sedikit yang tergoyak dengan kain yang berbeda warna. Mhmm… tapi masih cukup bagus… gumamnya senang.
Bai Fang Li mengayuh becak tuanya selama 365 hari setahun, tanpa perduli dengan cuaca yang silih berganti, di tengah badai salju turun yang membekukan tubuhnya atau dalam panas matahari yang sangat menyengat membakar tubuh kurusnya.

“Tidak apa-apa saya menderita, yang penting biarlah anak-anak yang miskin itu dapat makanan yang layak dan dapat bersekolah. Dan saya bahagia melakukan semua ini…,” katanya bila orang-orang menanyakan mengapa ia mau berkorban demikian besar untuk orang lain tanpa perduli dengan dirinya sendiri.
Hari demi hari, bulan demi bulan dan tahun demi tahun, sehingga hampir 20 tahun Bai Fang Li menggenjot becaknya demi memperoleh uang untuk menambah donasinya pada yayasan yatim piatu di Tianjin itu. Saat berusia 90 tahun, dia mengantarkan tabungan terakhirnya sebesar RMB 500 (sekitar 650 ribu rupiah) yang disimpannya dengan rapih dalam suatu kotak dan menyerahkannnya ke sekolah Yao Hua.
Bai Fang Li berkata “Saya sudah tidak dapat mengayuh becak lagi. Saya tidak dapat menyumbang lagi. Ini mungkin uang terakhir yang dapat saya sumbangkan….,” katanya dengan sendu. Semua guru di sekolah itu menangis….

Bai Fang Li wafat pada usia 93 tahun, ia meninggal dalam kemiskinan. Sekalipun begitu, dia telah menyumbangkan disepanjang hidupnya uang sebesar RMB 350.000 (kurs 1300, setara 455 juta rupiah, jika tidak salah) yang dia berikan kepada Yayasan yatim piatu dan sekolah-sekolah di Tianjin untuk menolong kurang lebih 300 anak-anak miskin. Foto terakhir yang orang punya mengenai dirinya adalah sebuah foto dirinya yang bertuliskan ” Sebuah Cinta yang istimewa untuk seseorang yang luar biasa”

BUDI SOEHARDI STORY

Indonesia boleh berbangga hati dengan sosok berhati mulia Budi Soehardi, seorang pilot yang dengan suka rela membuka panti asuhan bagi 47 anak yatim di Kupang, Nusa Tenggara Timur. Berkat upaya kemanusiaan yang ia lakukan itu, Budi Soehardi terpilih sebagai salah satu kandidat 2009 Top 10 CNN Heroes, acara yang menyoroti dedikasi orang-orang luar biasa di seluruh dunia. Soehardi terpilih dari 9000 kandidat dari 100 negara.

Pada sebuah tayangan TV ke seluruh dunia di penghujung November 2009, seorang warga Indonesia bernama Budi Soehardi dinobatkan sebagai satu dari 10 pahlawan kemanusiaan 2009 versi acara CNN yang bergengsi, “The Real Heroes”. Pilot Singapore Airlines yang asli Yogyakarta ini maju ke panggung dan disambut oleh aktris tenar AS, Kate Hudson, sebagai penyerah lambang penghargaan.

Ketika berbicara ke hadirin dalam bahasa Inggris yang fasih, ia dengan rendah hati mengatakan, “Bukan saya pahlawannya…saya ingin anda mengenal pahlawan sebenarnya dalam hidup saya —isteri saya, Peggy.” Hadirin pun gemuruh bertepuk menghormati ucapan pria ramah senyum berusia 53 tahun itu. Isterinya Peggy, yang bernama asli Rosalinda Panagia Maria Lakusa, terlihat menangis terisak penuh haru. Budi Soehardi pun menyebut tiga lagi pahlawan di dalam hidupnya, yaitu dua puteri dan satu putera mereka yang sudah beranjak dewasa. Dalam kata-kata sambutannya, Budi mengatakan "mereka mengorbankan liburan mereka selama ini, walau sebenarnya mereka bisa menikmati travel around the world dengan fasilitas first class yang saya dapatkan dari jabatan sebagai pilot. Tapi mereka memilih budget liburan mereka dipakai untuk membantu Roslin Orphanage".

Budi Soehardi terpilih dari 9.000 kandidat yang disaring oleh CNN di 100 negara. Tanpa diduga, suatu hari ia mendapat telepon dari CNN yang memohon izin meliput rumah yatim-piatu yang dikelola bersama isterinya di Kupang, Nusa Tenggara Timur. Tim CNN tinggal tiga hari di rumah itu untuk peliputan. Beberapa selang waktu kemudian, mereka mendapat pemberitahuan bahwa Budi Soehardi dinominasikan sebagai salah satu The Real Heroes tahun 2009. Suatu pengakuan yang tak terduga dari suatu kerja kemanusiaan yang datang dari nurani.

Liburan Jadi Awal Panti Asuhan Roslin
Budi adalah seorang pilot kawakan yang mengawali karirnya di Garuda Airlines, kemudian lanjut ke Korea Air, dan terakhir di Singapore Airlines sehingga memboyong keluarganya untuk domisili di Singapura. Suatu hari di tahun 1999, Budi Soehardi sedang makan malam bersama keluarga sambil menyaksikan tayangan televisi tentang situasi Timor-Timur pasca tahun 1999, di mana terlihat para keluarga pengungsi tinggal di kardus-kardus dan makan seadanya.

Budi tercenung lalu menatap isterinya dalam-dalam. Tanpa kata, di dalam hati mereka seolah sepakat bahwa mereka harus berbuat sesuatu untuk para pengungsi Timor-Timur.
“Sebetulnya kami sekeluarga sudah ada rencana untuk berlibur. Tapi malam itu juga kami sepakat, untuk mengalihkan tempat liburan kami jadi ke Kupang. Kami ingin mencoba liburan dengan suasana yang baru sekaligus melakukan aksi sosial,” ujar Budi.

Di tanah konflik itu, ia bersama keluarganya mendapati banyak hal yang mengenaskan termasuk orang-orang yang sengsara di kamp-kamp pengungsian. Niat baik pun tak kepalang, Budi Soehardi dan isterinya Peggy Lakusa memutuskan untuk membuat sebuah panti asuhan untuk anak-anak korban konflik.
Dia pun mulai berkoordinasi mengenai sumbangan keuangan, makanan, pakaian dan persediaan. Dengan bantuan dari teman-teman, relawan, Soehardis berhasil mengumpulkan lebih dari 40 ton makanan, obat-obatan dan peralatan mandi untuk dikirimkan ke kamp-kamp pengungsi dan daerah konflik di Timor Timur.

Soehardi kemudian menentukan Timor Barat sebagai ruang bagi anak yatim piatu. “Istri saya awalnya meminta saya untuk membangun tiga kamar. Lalu dua jam kemudian ia [meminta untuk] lima kamar, dan kemudian sembilan kamar dan akhirnya, gedung panti asuhan.”

Mereka menyelesaikan pembangunan panti asuhan mereka dalam 11 bulan dan menamakannya Panti Asuhan Roslin (Roslin Orphanage). Pada bulan April 2002, panti asuhan membuka dan menyediakan rumah bagi empat orang anak. Sejak saat itu tempat tinggal telah diperluas untuk menyediakan pendidikan gratis, pakaian, perumahan dan makanan untuk 47 anak-anak dari segala usia, bayi yang baru lahir hingga anak yang sudah mulai sekolah di universitas. Sekitar setengah dari penghuni pantia asuhan, usianya di bawah 8 tahun.
 
Dengan uang tabungan sendiri, mereka membangun Panti Asuhan Roslin, nama yang diambil dari nama seorang anak yang pertama mereka tampung. Saat dinominasi oleh CNN dalam The Real Heroes 2009, rumah mereka itu dihuni oleh 47 orang anak di samping terdapat ratusan anak lainnya yang ikut mereka tanggung di luar panti asuhan. Untuk biaya, ia menggunakan penghasilannya sebagai pilot dan kadangkala bantuan dari teman-teman.

Anak-anak di panti asuhan ini sendiri kebanyakan anak-anak yang orangtuanya menjadi korban dan pengungsi akibat konflik di Timor Timur. Sebagian anak sudah dirawat sejak mereka bayi.
“Pak Budi adalah seperti ayah saya sendiri,” kata Gerson Mangi, 20, seorang penghuni Roslin Orphanage. Mangi diasuh di panti asuhan ini sejak usianya masih 12 tahun, Orangtuanya sudah meninggal dan sebelum diasuh di panti asuhan ini, hidupnya terlantar. Sekarang, berkat pendidikan dan pelatihan di Roslin dan atas bantuan sponsor swasta, ia kini duduk di sekolah kedokteran.

Soehardi, yang ayahnya meninggal ketika ia berumur 9 tahun, dapat merasakan betul apa yang dirasakan anak-anak ini. Ia menceritakan bagaimana awalnya mendirikan panti asuhan ini.
“Makanan dan biaya sekolah sangat sulit didapat,” kata Soehardi. “Para pengungsi ini menggerakkan hati saya. Saya mau mereka hidup lebih baik,” katanya kemudian.

Panen
Panti asuhan ini dibangun di atas tanah yang disumbangkan karena tanahnya tandus. Tapi sekarang, beras berkualitas yang mereka makan anak-anak, semata-mata berasal dari tanah itu sendiri.
“Kami berani mengambil tantangan,” kata Soehardi. Dia dan Peggy, yang tidak terlatih dalam bidang pertanian, menggunakan dua pompa dan generator untuk mendapatkan air untuk irigasi.
Lalu mereka mulai menanam padi. “Seratus hari kemudian, kami sedang mengalami panen pertama kami dan menyatakan diri kita swasembada beras bagi anak-anak panti asuhan,” katanya.

Ini adalah taktik pemotongan biaya yang beruntung, terutama setelah Soehardi tidak lagi bekerja sebagai pilot sejak November demi perjuangan ekonomi panti asuhan. Soehardi menggunakan gajinya untuk membiayai panti asuhan dan mempertahankan pendanaan pendidikan mahasiswa kedokteran, Mangi. Ia berharap bahwa akhir kontraknya tidak akan mempengaruhi kesejahteraan anak-anak.

“Membantu anak-anak ini adalah suatu kehormatan bagi saya dan istri saya karena itu memberi kembali kepada masyarakat … memberikan kembali apa yang telah diberkati kepada kita,” kata Soehardi.

Merakalah manusia-manusia super. Budi Soehardi, seorang pilot, sebuah profesi yang identik dengan kehidupan hedonisme. Namun, dia berbeda. Bukan hanya seorang pemerhati keluarga, bahkan anak-anak yatim berkekurangan pun di perhatikannya. Begitupula dengan Bai Fang Li, Pria tua berprofesi tukang becak yang miskin, yang mampu memberi dalam kekurangan. Sungguh luar biasa.

Apapun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan  dan bukan untuk manusia
Kolose 3:23